Konsep dan Hukum Wakaf Asuransi Syariah Menurut Fatwa MUI

0
72
hukum wakaf asuransi syariah

Wakaf tidak hanya aset berupa tanah dan bangunan, tetapi juga bisa dalam bentuk uang. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) memperbolehkan untuk mewakafkan manfaat asuransi dan investasi pada asuransi syariah sesuai dengan aturan yang sudah dirumuskan dalam Fatwa MUI Nomor 106 Tahun 2016.

Dalam hukum Islam sendiri, wakaf dalam bentuk uang tunai dibolehkan (jawaz). Fatwa wakaf uang tunai ini diperkuat oleh beberapa pendapat ulama sebagai berikut:

  1. Mutaqaddim dari Mazhab Hanafi membolehkan wakaf uang dinar dan juga dirham,
  2. Menurut Imam Az Zuhri wakaf uang dinar dibolehkan dengan cara menjadikan dinar untuk modal usaha dan keuntungan dari usaha tersebut yang diberikan oada mauquf alaih,
  3. Sebagian ulama dalam mazhab Syafi’i berpendapat abjwa wakaf dinar dan dirham diperbolehkan.

Dalam fatwa yang mengatur mengenai wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi asuransi jiwa syariah tersebut dijelaskan bahwa manfaat asuransi dimaksudkan melakukan mitigasi risiko peserta atau pihjak yang ditunjuk.

Wakaf merupakan salah satu ibadah yang ada dalam ajaran agama Islam yang berupa kedermawanan seseorang dengan balasan pahal yang tidak terputus baginya dan manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat akan terus berlanjut.

Konsep wakaf asuransi

fatwa mui wakaf asuransi syariah

Secara umum, ada tiga konsep wakaf dalam asuransi, yaitu:

  1. Wakaf polis, di mana polis yang sudah ada, manfaatnya akan diwakafkan pada lembaga atau badan wakaf. Polis ini boleh saja bersumber dari asuransi konvensional maupun asuransi syariah.
  2. Wakaf dengan model asuransi. Maksudnya tabarru’ fund yang sudah ada dalam asuruansi syariah dijadikan sebagai dana wakaf. Secara mekanismenya, ketika orang belum tabarru, lebih dulu perusahaan akan membentuk dana wakaf. Ketika orang tabarru, dana tersebut di masukkan dalam dana wakaf fund, bukan masuk dalam tabarru’ fund.
  3. Wakaf yang jadi fitur dari produk asuransi syariah yang memang dibuat oleh perusahaan pengekkka asuransi syariah dengan meniatkan manfaatnya untuk berwakaf demi kesejahteraan bersama.

Manfaat asuransi yang dimaksud di sini adalah sejumlah dana yang berasal dari dana tabarru fund atau dana yang dibayar oleh peserta. Iuran ini merupakan bentuk santunan pada peserta yang sewaktu-waktu mengalami musibah atau diberikan pada pihak lain yang lebih berhak.

Manfaat asuransi pada dasarnya tidak boleh diwakafkan jika uang tersebut bukan milik peserta. Namun diperbolehkan jika semua calon penerima manfaat asuransi bersedia dan berjanji untuk mewakafkan sebagian dari manfaat asuransi serta beebrapa aturan yang sudah diatur dalam Fatwa MUI.

Tetapi manfaat investasi dari peserta asuransi boleh diwakafkan. Manfaat investasi yang dimaksud adalah sejumlah dana yang diberikan pada peserta program asuransi yang bersumber dari kontribusi investasi peserta dan juga hasil investasinya.

Manfaat asuransi hanya boleh diwakafkan maksimal 45 persen dari total manfaat asuransi. Lalu, ikrar wakaf baru dilaksanakan setelah manfaat asuransi sudah menjadi hak dari pihak yang ditunjuk. Sebab dalah satu syarat yang menjadi obyek wakaf adalah harta yang diwakafkan harus yang sudah menjnadi milik penuh wakif saat akad wakaf dilakukan.

Sedangkan wakaf manfaat investasi yang boleh diwakafkan maksimal sepertiga dari totoal kekayaan, namun boleh lebih jika semua ahli waris sudah menyetujuinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here